Kamis, 29 Januari 2009

Kriptografi

Kriptografi, secara umum adalah ilmu dan seni untuk menjaga kerahasiaan berita. Selain pengertian tersebut terdapat pula pengertian ilmu yang mempelajari teknik-teknik matematika yang berhubungan dengan aspek keamanan informasi seperti kerahasiaan data, keabsahan data, integrasi data, serta autentikasi data. Tidak semua aspek keamanan informasi ditangani oleh kriptografi.

Ada empat tujuan mendasar dari ilmu kriptografi ini yang juga merupakan aspek keamanan informasi yaitu :

  • Kerahasiaan, adalah layanan yang digunakan untuk menjaga isi dari informasi dari siapapun kecuali yang memiliki otoritas atau kunci rahasia untuk membuka/mengupas informasi yang telah disandi.
  • Integritas data, adalah berhubungan dengan penjagaan dari perubahan data secara tidak sah. Untuk menjaga integritas data, sistem harus memiliki kemampuan untuk mendeteksi manipulasi data oleh pihak-pihak yang tidak berhak, antara lain penyisipan, penghapusan, dan pensubsitusian data lain kedalam data yang sebenarnya.
  • Autentikasi, adalah berhubungan dengan identifikasi/pengenalan, baik secara kesatuan sistem maupun informasi itu sendiri. Dua pihak yang saling berkomunikasi harus saling memperkenalkan diri. Informasi yang dikirimkan melalui kanal harus diautentikasi keaslian, isi datanya, waktu pengiriman, dan lain-lain.
  • Non-Repudiasi, atau nirpenyangkalan adalah usaha untuk mencegah terjadinya penyangkalan terhadap pengiriman/terciptanya suatu informasi oleh yang mengirimkan/membuat.

Minggu, 02 November 2008

Mozaikmu!!!

Setiap peristiwa di jagat raya ini adalah potongan-potongan mozaik..
Terserak di sana-sini, tersebar dalam rentang waktu dan ruang-ruang..
Namun, perlahan-lahan ia akan bersatu membentuk sosok seperti montase Antoni Gaudi.. Mozaik-mozaik itu akan membangun siapa dirimu dewasa nanti..
Lalu apa pun yang kau kerjakan dalam hidup ini, akan bergema dalam keabadian..

"Maka berkelanalah di atas muka bumi ini untuk menentukan mozaikmu!"

Pemerhatimu..^_^

Aku adalah pemerhatimu yang mencuri cantikmu dari gelapnya hatiku,,
biarkan aku menggodamu dan menjadi temanmu walaupun hanya dari kegelapan dan kejauhan tapi kita sering bertemu walau kau tak menyadari itu..
Ak inginkan kau menjadi temanku dan seiring waktu yang berjalan kau kan tau siapa aku..

Sabtu, 01 November 2008

Sebuah Kenangan

Sebuah hati
Untuk sebuah cinta
Demi sebuah kebahagiaan,,
Tentang sebuah ceritaku
Dalam sebuah kehidupan
Singkat ini..

Banyak orang yang panjang pengalamannya
tapi tak kunjung belajar,,
namun tak jarang pengalaman yang pendek
mencerahkan sepanjang hidup..

Jumat, 31 Oktober 2008

LAMA by Thole

LAMA

“Oh iya! Bagaimana perasaanmu hari ini, kamu sudah siap?” spontan saja pertanyaan itu keluar dari mulutku. Dari gagang telepon yang aku genggam ini, aku dengar suara lembutnya menjawab “Insya Alloh aku sudah siap”. Kuhela nafasku dalam-dalam kemudian aku berkata kembali padanya “Ngomong-ngomong mana Ibu? Bisa aku bicara sebentar dengannya?, ada yang ingin aku sampaikan padanya!”. “Ibu ada di sebelahku” jawabnya. Dari suara-suara yang kudengar di sini sepertinya dia sedang memberikan HP yang dia genggam kapada Ibu. Rupanya HP itu telah berpindah tangan.

“Hallo, ada apa nak?” itu suara Ibu yang selanjutnya aku dengar. “Assalamualaikum, Bu! Jika tidak keberatan ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan Ibu!”. “Oh! Boleh” jawab Ibu. “tapi saya ingin Ibu berpindah ruangan dari tempat Ibu berada sekarang ke tampat dimana Ibu hanya sendiri saja yang akan mendengarkan apa yang akan aku sampaikan lewat telepon ini”, kenapa aku berkata seperti itu, karena aku yakin Ibu pasti sedang berada bersama dia dalam satu kamar. Tak terlalu lama kemudian Ibu berkata “baiklah! sebentar Ibu akan pindah dari sini”…

Dia yang aku kenal saat aku duduk di bangku SMA. Orangnya kelihatan aktif, tepatnya waktu itu dia aktif di PASKIBRA. Aku yang saat itu duduk di kelas tiga sedangkan dia di kelas 1, jadi aku seniornya di sekolah. Posisi kelasku besebelahan dengan lapangan basket, ya lapangan tenis dan berfungsi sebagai tempat upacara juga.

Matahari sudah mulai merangkak tinggi, seperti biasa kalau upacara bendera bisa molor sampai jam segini, berarti ada acara tambahan setelah pembacaan doa. Apa lagi kalau bukan ada guru-guru yang seneng banget ngasih pengumuman bahkan kadang-kadang sampai lima orang guru yang saling bergantian berbicara di depan mimbar, padahal senin kemarin, senin kemarinnya lagi, atau senin bulan lalu sang guru itu pernah berbicara sama seperti apa yang dia bicarakan hari ini. Sementara di barisan paling balakang (tempat pavoritku waktu upacara) terjadi sebuah diskusi tersendiri. Dengan suara setengah berbisik Asep bertanya kapada aku “Eh! Guru yang ke dua sudah selesai, nah sekarang siapa guru ketiga yang akan ngasih pengumuman hari ini?, temanya sekalian?”. “Entahlah!” jawabku.

Ketika akhirnya Protokol upacara berbicara “PENGUMUMAN-PENGUMUMAN: Alhamdulillah SMA kita menjadi Tiga Besar saat mengikuti lomba di Kabupaten… Inilah dia TIM PASKIBRA kebanggaan kita bersama”. ‘Apa hebat juga ternyata Tim Paskibra sekolahku ini’ tidak terlalu nyaring celetukan itu keluar dari mulutku. Tepuk tangan yang cukup bergemuruh ternyata sanggup menenggelamkan kegaduhan diskusi di berisan belakang, tempat aku berdiri.

Sementara di depan lapangan Kapala Sekolah, guru-guru, dan paduan suara masih pada posisinya walau barisannya sudah tidak terlalu tertata rapih. Wow! apa yang aku lihat di depan sana sekelompok siswa-siswi mendekat sambil membawa tropi yang ukurannya cukup besar, aku berani menebak tropi apa itu. Sementara Bapak Kepala Sekolah (aku salut padanya) berpindah posisi ke dekat tiang bendera. Sepertinya akan terjadi serah terima tropi dari Tim PASKIBRA dan diserahkan kepada Kepala Sekolah, dan ternyata benar. Aku kenal siapa orang yang menyerahkan tropi itu kepada Kepala Sekolah namanya Asep Ega. ‘Memeng di daerah sunda ini banyak sekali nama Asep barangkali dalam satu RT ada 15 orang yang bernama Asep…he..he..’. Hey! siapa itu tubuhnya agak berbeda dari rekan-rekannya, rambutnya pendek, dan orangnya manis juga. Bersambung……!!!!!!

Itulah Risa, cukup lama juga dia barada di depan lapangan dan cukup lama juga aku menatap wajahnya. Jika biasanya upacara yang molor ini membakar rasa keluhku, tetapi tidak untuk kali ini. Senyum Risa yang manis dan tawa kecilnya seakan telah memancarkan air yang begitu sejuk dan mampu memadamkan api keluhku, serta membawa kesejukan diantara teriknya matahari.

Ketika upacara hari itu selesai, seperti biasanya aku tidak langsung masuk ke dalam ruangan kelasku. Aku duduk di bangku yang ada di depan kelasku, di temani beberapa kawanku yang biasa mengajakku bercanda-canda ringan sambil menunggu intruksi dari Guru untuk masuk kelas. Obrolan yang tidak jelas mewarnai suasana saat itu. Tidak lama kemudian ketika aku menoleh ke kanan aku melihat seorang siswi menggendong tropi yang tadi, dan ada Risa di sebelahnya. Mereka melangkah pelan mendekat kemudian melintas di depanku dan akhirnya melangkah meninggalkanku. Aku terus menatapnya hingga ia memasuki ruang Kapala Sekolah. Ketika aku tersadar ternyata aku telah sendirian di bangku itu, kutengok kedalam kelasku ternyata Guru Matematikaku telah duduk di kursinya dan menatap balik kepadaku. Oow Apa yang terjadi selanjutnya ?....

Kalau kulihat Risa itu orangnya gemar sekali membaca, buktinya ketika istirahat sekolah ia sering masuk ke Perpustakaan (aku sering menyebutnya Perpus) tidak jarang juga tangannya menggenggam sebuah buku. Dan ketika istirahat selesai dari depan pintu kelasku ini aku sering melihatnya keluar dari Perpus, kebetulan sekali antara pintu kelasku dengan puntu Perpus di sekolahku saling berhadap-hadapan jadi aku suka menunggu suara bel istirahat dan suara bel masuk di depan pintu kelasku, moga-moga dia melirik dan melemparkan senyum manisnya padaku saat dia masuk atau keluar Perpus. Berminggu-minggu aku melakukan hal yang sama hanya bisa menatapnya keluar masuk Perpus dari depan pintu kelasku, tanpa dia ketahui bahwa ada aku yang selalu menatapnya dan berharap dia membalas tatapanku.

Pagi ini sepertinya aku terlalu cepat tiba di sekolah, kuputuskan untuk mengunjungi Perpus biasanya kalau masih pagi belum banyak siswa yang datang ke sini, hitung-hitung aku beradaptasi dengan Perpusku ini, aku termasuk orang yang jarang sekali masuk ke sini. Setelah aku barada di dalam, kulihat banyak sekali buku-buku yang hanya tersusun di rak-rak. ‘Hanya terpajang dan manjadi simbol sebuah Perpus, jarang sekali disentuh dan dibaca’ inikah nasibmu buku-buku yang telah diutus memberi ilmu?

Ketika aku sedang berbincang dengan dua orang yang menjaga Perpus ini, rupanya bel tanda masuk kelas telah memaksa aku untuk mengakhiri perbincanganku itu. Ketika aku berada tepat di depan pintu aku menangkap salah seorang Penjaga Perpus itu berkata “Sering-seringlah datang ke ruangan ini, karena ruangan ini milik kamu dan semua ilmu yang bertebaran di dalamnya, itu pun milikmu!”.

Di hari yang sama aku masih duduk di dalam kelasku mengikuti mata pelajaran Fisika. Irawan kawan sebangku rupanya sudah tidak kerasan berlama-lama di dalam kelas, entah karena pelajarannya yang sudah membuat pusing kepala, entah karena cacing di perutnya sudah meronta-ronta minta makan, atau mungkin dia ingin segera bertemu dengan kekasihnya yang manja… melihat tingkah kawanku ini, aku pun menoleh ke arah jam yang tertempel pada dinding di belakangku. Ternyata memang sudah jam sepuluh lebih lima menit (seharusnya sudah bel istirahat), Tidak berlama-lama, setelah Guru fisikaku meninggalkan kelas aku segera keluar dan duduk di bangku depan kelasku. Sudah hampir lima menit aku duduk di sini ternyata belum juga melihat Risa. Sementara aku yang telah ditinggalkan sendiri oleh teman-temanku yang sudah berbondong-bondong ke kantin tak mau aku hanya duduk di sini kemudian kulangkahkan kaki ke perpus. Bersambung…..!!!!!!!

Dari depan pintu Perpus, aku menengok ke dalam, hanya ada dua orang Penjaga perpus dan beberapa orang siswa saja yang berada di dalam. Setelah memberi salam kepada mereka aku melangkah masuk dan menuju rak-rak buku mencoba melihat-lihat sekiranya ada buku yang membuatku tertarik untuk membacanya!. Tak terlalu lama aku memilih-milih buku, segera saja aku ambil sebuah buku dan mencari tempat yang nyaman untuk membacanya. Kebetulan sekali aku mendapatkan tempat yang aku suka, tempatnya memojok tetapi aku masih dapat melihat pintu masuk Perpus dari sana . Sebelum memulai membaca, aku lihat wajah-wajah yang berada di dalam tempat ini, ternyata Risa tidak ada di sini. Mungkin memang hari ini Tuhan tidak menuliskan jadwalku untuk bertemu Risa di sini…

Ternyata, aku tidak terlalu menikmati bacaanku, karena setiap ada orang yang masuk ke dalam sini mataku selalu melirik untuk melihat siapa gerangan yang masuk. Sudah hampir delapan orang yang masuk, tapi aku tidak melihat parasnya yang manis, ‘Tak apalah!’. Dan orang yang kesembilan yang masuk ke dalam adalah ketua kelasku, Opik namanya. Sambil menggenggam buku yang diambilnya dari salah satu rak kemudian dia menghampiriku dan duduk tepat di sebelahku. Tatapan matanya yang berbeda jelas aku lihat saat ia memandangi aku. “Pik!, kamu pasti berpikir, tumben aku berada di dalam sini?” langsung saja aku berkata seperti itu, tawa kecil dari Opik membuatku merasa sedikit malu… Hanya sepuluh menit aku dan Opik berada di dalam karena bel tanda masuk sudah dIbunyikan. Saat aku sedang mengingat-ingat di mana buku ini aku ambil tadi. Ternyata Opik sudah terlebih dulu menungguku di depan pintu Perpus. Dari luar dia menunjuk rak kedua dan susunan ketiga, “taruh buku itu di sana !” kata Opik, membantuku menyimpan buku ini. Kupercepat langkahku keluar dari Perpus, dan ketika aku melangkahkan kaki keluar, hampir saja aku menabrak seorang Siswi kelas satu, tingginya kira-kira dua senti lebih rendah dari aku, kelihatannya dia terburu-buru… Langsung saja jantungku berdetak tujuh kali lebih cepat, karena yang hampir aku tabrak adalah Risa. Sejenak dia menatapku, kemudian menoneh ke arah Opik dan dan menyapa ketua kelasku itu. “Maaf!” kataku, kemudian Risa kembali menatapku. “Silahkan!” sambil aku ayunkan tanganku, mempersilahkannya masuk ke Perpus seraya pandanganku mengiringnya melangkah masuk. Ketika dua langkah Risa berada di dalam Perpus kemudian dia menoleh kepadaku tapi ada yang istimewa kali ini ‘yeah! Dia melemparkan senyumnya yang manis kepadaku’ ini kali pertama Risa tersenyum kepadaku, spontan saja aku balas senyumannya itu dengan mengkerutkan kulit diantara mataku, (seharusnya aku balas dengan senyuman juga).

Ditepuknya bahuku, kemudian Opik menyebutkan sebuah nama “Risa!, dia anak PASKIBRA sama seperti aku” katanya seperti itu kepadaku tapi aku pura-pura saja tidak tahu, “Ooo..!” jawabku. Rupanya tidak hanya hari itu saja Risa memberikan senyum manisnya kepadaku, dimana saja ketika dia berpapasan denganku, ketika dia membalas pandang denganku, ketika dia dan aku saling mencuri pandang saat dia sedang berkumpul bersama teman-temannya atau sebaliknya, tidak jarang juga saat aku sedang belajar di dalam kelas dan sejenak menoleh keluar jendela ternyata Risa sedang berjalan bersama teman-temannya ke lapangan untuk latihan, saat-saat itulah kuberi dia sedikit senyuman dan kerutan antara kedua mataku. ‘Wah bukannya belajar! Udah mulai nakal rupanya, aku ini!’.

Dan sejak saat itu aku pun sering sekali berkunjung Perpus, bukan hanya karena ucapan seorang Penjaga Perpus waktu itu, tapi…! tapi juga karena rasa rindu yang membuatku merasa tidak puas menatap wajahnya hanya dalam lamunanku. ‘Jadi…! Aku jadi salah satu siswa yang rajin ke Perpus’. Walau jarak kelasku ke Perpus lebih dekat dibandingkan kelasnya tapi Risa tidak jarang sudah tiba lebih dahulu di sana . Pernah suatu hari, waktu istirahat hanya tersisa sekitar tiga menit lagi. Aku masih gelisah menunggu obat rinduku yang belum kunjung datang. “Neng, kau tahu dimana Risa?” ku dengar Bapak Penjaga Perpus bertanya kepada seorang siswi yang sedang asik membaca Mangle. “Risa sedang sakit Pak!, Oh ini ada titipan dari dia katanya harus dikembalikan ke Perpus hari ini”, aku melihatnya menghampiri Pak Penjaga sambil menyarahkan sebuah buku ketika ia berkata seperti itu. “Risa sedang sakit!, Ya Tuhan segera sembuhkanlah Risa karena kesembuhanya adalah obat bagi rasa rinduku!”… Dua hari kemudian kudapatkan kembali senyuman Risa yang manis…

Hanya senyum dan tidak lebih, aku pun belum pernah mendengarnya Berkata-kata kepadaku… ‘Engga salah kan ! Kalau aku ngerasa GR’ karena dari rasa GRku itu aku mulai membuat puisi pertamaku untuknya. Kemudian kubuat puisi kedua, ketiga, keempat dan tidak ada yang bisa menghentikanya. Karena hanya dengan hurup-hurup puisi inilah hatiku dapat menyampaikan apa yang ia pendam ‘Wah sepertinya aku jadi Pujangga dadakkan nich!’. Kusimpan semua puisi itu dalam hardisk komputerku, entah kapan akan kuberikan kepadanya ataukah selamanya puisiku itu akan bersemayam dalam piringan hardisk yang terus berputar. Ingin rasanya ku torehka puisi-puisiku ini ke dalam kertas dan kubacakan untuknya… ‘Aku hanya menunggu hingga Tuhan menyediakan waktu untukku dimana saat itu aku telah merobek jahitan di bibirku.’

Tak terasa liburan semester sudah dimulai, dan aku pun pulang ke kota kelahiranku… Oh! Aku terlahir di Tangerang, kedua orang tuaku tinggal di kota ini sedangkan aku tinggal bersama Kakek dan Nenekku di Sumedang. Dan memang aku melanjutkan SMAku di Kota Tahu ini, karena ingin menemukan suasana baru. Di hari ketiga aku di Tangerang kusempatkan diri untuk pergi ke Glodok dan Mangga Dua (tempat biasanya aku mengecek segala sesuatu tentang komputer) setelah membeli tiga keping CD Software, aku pun meninggalkan tempat itu tetapi sebelumnya aku ingin mampir ke toko buku di salah satu Mall di Daan Mogot. Semenjak mengenal Risa ternyata otak sebelah kananku mulai menjadi Aktif, biasanya aku orang yang selalu menggunakan otak kiriku, maklumlah aku mengambil jurusan IPA di SMA. Dan di dalam toko buku ini pun aku mulai melihat-lihat buku-buku yang berbau sastra. Aku pun tidak malu-malu menghampiri rak buku yang berisikan novel-novel. Di salah satu sisi rak, aku melihat sebuah buku berwarna agak kecoklatan gambar pada sampulnya telah membuatku tertarik terlebih judul yang tertulis di sana . Aku ambil buku itu dan kubaca pelan-pelan judulnya Aku, Buku, Dan Sepotong Sajak Cinta. Setelah mengambil sebuah buku lagi Wanita Agung aku meninggalkan toko buku ini dan pulang ke rumah. (Terima Kasih kepada Orang-orang yang telah menyusun judul buku yang aku beli)

Liburanku telah selesai, karena memang aku juga tak ingin berlama-lama memendam rasa kanganku pada Risa, ingin rasanya kembali ke sekolah kembali ke Perpus, dan kembali ke lapangan saat Upacara. Telah berbulan-bulan buku yang aku beli waktu itu belum kuserahkan pada Risa dan segelnya pun mesih menyelimuti. Tapi waktu seakan berlari terlalu cepat, tak mamberikan kesempatan padaku untuk melakukan semua yang harus aku lakukan. Dan yang terjadi adalah rasa takut yang mengurungku kuat-kuat.

Hanya satu bulan tersisa sebelum Ujian Nasional, peraturan baru telah memintaku harus malampaui angka 4,01 untuk dapat dinyatakan lulus. Segala persiapan kulakukan, mamfokuskan diri pada apa yang nanti akan diujikan. Setelah kemarin aku mendapat telapon dari orang tuaku di Tangerang dari kata-kata yang kudengar, semua harapan mereka kini telah berada di bahuku. Aku harus lulus, dan memang sebagai seorang anak aku tak boleh membuat kecewa orang tuaku. Tiga tahun mereka telah memberikan biaya untukku, telah tiga tahun mereka memberikan kepercayaannya padaku, dan banyak hal lagi yang telah mereka berikan kepadaku selama tiga tahun ini. Ketika aku dituntut untuk sedikit membalas atas apa yang telah mereka berikan…

Diawal aku naik ke kelas tiga, sebelum ada Risa di hatiku. Pernah ada nama Ega yang telah masuk di dalam hatiku, hanya sejenak dia membuatku bahagia, tetapi ketika nama itu sudah berada di dalam hatiku ternyata dia telah melukaiku dari dalam. Terlalu perih untuk aku tahankan, sempat selama dua bulan aku merasa terpuruk, bahkan sampai hari ini aku masih trauma dengan rasa sakit itu. Aku tidak mau merasakan rasa sakit itu lagi, apalagi menjelang ujian ini. Rasa takut telah membuatku merasa tidak yakin pada diriku sendiri, walau ingin rasanya aku menyatakan apa yang aku rasakan kepada Risa. Aku takut Risa tidak menerima semua rasa cintaku, dan membuatku terpuruk kembali. Akhirnya aku putuskan untuk menunggu hingga ujian selesai.

Baru saja aku mandapatkan pengarahan terkahir dari Ibu Nia (Wali Kelasku). Empat hari menjelang ujian dan tiga hari kedepan adalah hari tenang. Sekarang aku tengah duduk di dalam Perpus aku duduk sendiri diantara kursi-kursi yang tak berisi, sendiri diantara rak-rak buku yang membisu, sendiri diantara meja-meja bertaplak kain hijau. “Maafkanlah aku, hatiku!, maafkanlah aku, hatiku!, mafkanlah aku…, nanti akan ada saatnya aku akan memenuhi keinginnanmu!” tak ada orang yang mendengarkan kata-kataku itu karena aku hanya berkata pada hatiku sendiri. Di tengah sunyinya ruang Pepus kemudian ada tiga orang masuk, saat itu aku hanya menatap kosong Risa, ditemani dua orang temannya, Risa menghampiriku sementara temannya asyik memilih buku di rak. “Lagi ngapain A?” tanya Risa padaku, “Oh! Cuma duduk aja” jawabku sambil mambalik buku yang aku beli di toko buku waktu itu (Wanita Agung). Kemudian Risa kembali bertanya padaku “Buku apa itu? Boleh lihat!”. Kemudian kuberikan buku itu masih dalam posisi terbalik. Ketika Risa membalik dan melihat judul pada jilid depan, Dia memintaku untuk meminjamkannya, aku pun tidak bisa untuk menolaknya. Inilah perbincangan pertamaku dengan Risa. Ingin rasanya aku memberitahu Risa bahwa aku telah jatuh hati padanya, tapi tak ada kata-kata seperti itu yang keluar dari bibirku. Dan hatiku hanya mampu membenamkan diri di antara rusuk-rusuk yang berhimpit… “Aku permisi dulu A, mungkin Ibu Lilis hadir hari ini. Ooh ya! Selamat Ujian ya A, Semoga Sukses!” Risa berkata seperti itu seperti itu ketika bel berbunyi satu kali. “Oo” balasku. Ketika Risa sedang berajak dari kursi yang baru saja dia duduki , aku pun berkata kembali “Risa!... di rimahku masih ada satu novel, jika kamu mau meminjamnya nanti akan aku berikan”. “Boleh, aku tunggu ya!” sambil tersenyum dia membalas dan kemudian bersama kedua temannya meninggalkan aku sendiri di dalam Perpus…

Lima hari yang tak terlupakan telah berlalu, sehari setelah ujian selesai aku harus segera ke Tangerang karena orang tuaku telah memilihkan sebuah sekolah untukku, mereka memintaku untuk melihat-lihat sekolah yang mungkin akan menjadi sekolahku nanti. Memang tak banyak waktu pendaftaran di sekolah tersebut tinggal lima hari lagi. Di hari ketiga aku di Tangerang, aku pergi ke sekolah tersebut. Banyak sekali kulihat Taruna berbadan tegap yang berbaris sebelum memasuki kelas, di sinilah para calon penerbang akan dididik. Setelah bertanya-tanya mengenai persyaratan untuk masuk, ternyata aku belum memiliki Ijazah tetapi bisa digantikan dengan surat pernyataan yang ditandatangani Kepala Sekolah. Dan siang itu pun aku kembali ke Sumedang.

Malam harinya setelah tiba di rumah Kakek, rasa lelah telah memaksaku untuk segera tidur. Ketika aku terbangun, rupanya pagi masih terlalu dini baru jam empat pagi. Tiba-tiba saja aku teringat pada Risa dan hatiku menagih apa yang pernah aku ucapkan ketika di Perpus tempo hari. Langsung saja aku hidupkan komputerku membuka file yang berisikan puisi-puisi untuk Risa. Kemudian aku print sebuah puisi ini:

Setiap ukiran senyum

yang kulihat dari bibirmu

seakan kau mengirimnya

tuk menjemputku keluar

dari dinginnya kesendirianku

Seperti waktu yang kunanti

Seperti harapan yang kudambakan

Ingin kubacakan kepadamu

tulisan yang tersembunyi di hatiku

Seperti terbelit

pita suara sendiri

Kujahit sendiri bibir ini

dengan tanganku

Tolong jelaskan padaku

Bagaimana caranya membacakan

puisi ini untukmu, Risa

dan kusisipkan pada novel Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta. Setelah itu aku memasukan semua komponen komputerku ke dalam kardus karena ia akan ikut bersamaku kembali ke Tangerang hari ini juga. Paginya aku segera pergi ke SMAku. Setelah mendapatkan surat penyataan yang aku butuhkan aku pun segera menemui Risa di kelasnya, setibanya di depan kelas, Risa masih sedang belajar di dalam. Dari pintu yang terbuka Risa menatap ke arahku, aku hanya mengedipkan mata untuk memberikan isyarat kepadanya. Aku pun mengetuk pintu kelasnya.

“Maaf Bu! Bisa bertemu dengan Risa sebentar?” aku meminta ijin kepada guru yang berada di dalam. Ketika novelku masih aku genggam erat, Risa menghampiriku di samping kelasnya setelah mendapat ijin. “Risa ini novel yang pernah aku janjikan waktu itu” ketika aku berkata seperti itu, novel itu masih aku pegang. Entah berapa detik telah dihabiskan rasanya cukup lama juga novel itu terselip di antara genggamanku dan genggamannya, sebelum akhirnya perlahan aku melepaskan genggamanku. Kemudian Risa berkata padaku “Kapan buku dan novel Aa harus saya kembalikan?”. “Bacalah sesuka hatimu, mungkin aku tidak akan menagih buku dan novel itu padamu!” sambil menatap matanya aku berkata seperti itu. “Ooh, tapi Aa pasti ingin membacanya!” sambung Risa. “Tak apa… Ada sesuatu di dalam novel itu, bacalah!”. Tak ada kata-kata lagi yang kuucapkan pada Risa setelah apa yang aku ucapkan barusan. Risa kembali masuk ke dalam kelasnya dengan puisiku yang masih terselip dalam novel yang dia genggam dan aku pun melangkah meninggalkan kelasnya, maninggalkan gerbang sekolah, meninggalkan rumah Kakek, meninggalkan Kota Sumedang dan kembali ke Tangerang.

Di dalam bis yang membawaku ke Kota Bekasi sebelum akhirnya naik bis lain untuk ke Tangerang, aku duduk di kursi paling depan. Ketika bis yang aku naiki masih melaju di jalan Tol, sementara kulihat di depanku senja mulai terbenam. Ku biarkan hati dan pikiranku berdiskusi tentang Risa. Besar sekali rasa cintaku pada Risa, hanya saja aku masih membenamkannya dalam-dalam. Sekiranya Risa mampu untuk mengartikan maksudku dengan mamberikan puisiku dan novelku itu. Karena di dalam puisiku itu ada pesan dari hatiku untuknya.

Ketika pangumuman kelulusan tinggal satu minggu lagi, tiba-tiba saja kondisi tubuhku sempat memburuk, setelah dicek ke dokter aku menderita panas dalam dan pilek yang berat, sampai sampai dari hidungku keluar darah yang hitam kental mungkin karena adaptasi lingkungan kurang baik, memang di Tangerang udara dan cuacanya cukup panas sementara aku yang tiga tahun tinggal di udara yang sejuk tidak mampu dengan baik menerima perubahan cuaca ini. Aku pun segera menelpon Pak Endang (Staf TU di SMAku) menjelaskan kepadanya tentang apa yang aku alami, kemungkinan saat pengumuman aku masih harus beristirahat di sini.

Minggu pagi jam 08.10 pagi atau sehari sebelum pengumuman kelulusan, telepon di rumahku berdering. Rupanya Pak Endang menelponku, setelah aku mambalas salam darinya, Pak Endang terdiam cukup lama, sementara aku yang sudah merasa dek-dekan. Akhirnya Pak Endang berkata “Wah! Selamat, selamat… kamu lulus”, kemudian aku bertanya untuk meyakinkanya “Yang bener Pak!”, “Bener!” jawab Pak Endang kembali. “Alhamdulillah… Semuanya lulus Pak?” aku bertanya lagi, “ Ada , satu orang yang tidak lulus” dengan suara pelan Pak Endang menjawab pertanyaanku. Dan ketika aku menanyakan padanya siapa temanku yang tidak lulus itu Pak Endang tidak memberi jawaban dan malah mengakhiri penbicaraannya.

Dua hari setelah itu aku kembali lagi ke Sumedang karena esok harinya aku harus membubuhkan tiga sidik jariku pada Ijazah yang nanti akan aku serahkan pada kedua orang tuaku.

Sabtu pagi, ini hari terakhir aku menjadi siswa di SMA ini. Semua yang pernah terjadi di sini akan menjadi kenangan dan semua kenangan di sini tak akan kulupakan. Sedih rasanya ketika aku melihat sebuah panggung telah dipersiapkan untuk melepasku pergi, mungkin hari ini akan menjadi perpisahan yang manis. Pagi itu, salah seorang Panitia Acara Perpisahan menemuiku dan berkata “A! sedang ditunggu oleh Ibu Lilis, Bulky, dan Agus di sebelah kanan panggung”setelah menemui mereka, Ibu Lilis meminta aku dan dua temanku ini untuk mengisi acara perpisahan. Spontan saja aku menolak karena tidak ada persiapan sebelumnya. Tetapi setelah aku mendengar Ibu guruku yang cantik ini berkata “ Sampai detik ini belum ada siswa dari kelas tiga yang mengajukan diri untuk mengisi acara”. Akhirnya Bulky, Agus dan aku mencari kelas yang kosong kemudian mempersiapkan sebuah puisi dan berlatih di sana . Setelah selesai aku dan kedua temanku ini kembali ke sebelah panggung. Ibu Lilis melarangku berada jauh dari panggung, ketika aku sedang bertanya kapan giliran untuk tampil, aku melihat Ega menjadi salah seorang paduan suara dan duduk di sebelah Ibu Lilis. Sepertinya kumelihat Ega ingin menyapaku tetapi tak ia lakukan. Kemudian kusapa dia, hanya senyum tipis tanpa kata-kata yang ku terima darinya. Masih agak lama sebelum aku tampil, lalu aku meminta ijin pada Ibu Lilis untuk jalan-jalan sebentar.

Ketika di atas panggung, pidato sambutan dan hIburan yang silih berganti. Aku berjalan diantara kerumunan orang, berharap aku akan bertemu dengan Risa. Tapi entah dimana Risa?, aku tidak bertemu dengannya hingga Bulky menemuiku dan mengajakku untuk bersiap-siap. Kemudian aku kembali ke sebelah panggung, sementara aku melihat di atas panggung upacara adat tengah berlangsung. Rasanya kelopak mataku ini tak sanggup lagi membendung air mataku yang hampir meluap. Sedih rasanya ketika aku melihat Bapak Kepala Sekolahku melepaskan topi dan logo SMAku dari dua orang perwakilan siswa sebagai simbol aku sudah dilepas dan tidak lagi menjadi siswa di sini. Segera kusapu air mata yang sudah menetes di pipiku karena setelah upacara adat ini selesai aku akan tampil. Ada hal yang membuat aku tersentak ketika upacara adat tiba-tiba dihentikan sebelum usai, kemudian aku mendengar pembawa acara memanggil namaku dan nama kedua temanku untuk tampil di panggung dan membacakan sebuah puisi. Aku merasa sangat tersanjung ketika puisiku harus dibacakan diantara upacara adat yang sakral ini.

Agus yang memetik gitar berada diantara aku dan Bulky yang membacakan puisi. Hanya suara gitar dan kata-kata dari puisi kami saat itu yang mengisi heningnya suasana. Hanya bait terakhir yang aku ingat dari puisi yang aku bacakan saat itu;

Ya tuhan ijinkan kami

Menjadi saksi

Saat para malaikatMu

Menghitung amal guru kami

Di akhirat nanti.

Karena setelah puisi itu dibacakan, Kertas yang berisikan puisi itu diberikan kepada Ibu Lilis sebelum sempat aku menyalinnya.

Saat aku masih membacakan puisi di atas panggung, rupanya Risa menyaksikan aku membaca puisi dari depan Koperasi Sekolah yang berada di arah kiri dari panggung. Aku hanya memandangnya sesaat ketika itu. Ingin rasanya aku berkata “Risa tunggu aku di Sana !” tapi tak ada kata seperti itu keluar dari mulutku hingga puisiku selesai dibacakan, aku pun segera turun dari panggung dan menemui Ibu Lilis, setelah Upacara adat selesai tanpa permisi aku meninggalkanya karena aku ingin menemui Risa. Rupanya aku tak menemukan Risa di tempat tadi saat dia melihatku membacakan puisi. Hingga ke depan gerbang sekolah aku mencarinya dan aku mencari diantara orang-orang yang berajak meninggalkan sekolah karena memang seluruh acara telah selesai. Sambil menundukkan kepala aku masuk ke dalam kelasku ketika itu Ibu Nia sudah berada di dalam bersama teman-temanku yang lain. Aku duduk termenung sambil menunggu giliranku mengambil Ijazah. Entahlah apa ada kata-kata yang dapat mengungkapkan apa yang aku rasakan saat itu. Apakah aku harus bahagia ketika menerima Ijazah sementara kesedihan mendekapku tatkala aku harus berpisah dengan sekolah yang telah menorehkan banyak kenangan untukku?. Apakah aku harus bahagia karena aku akan segera berkumpul kembali bersama kedua orang tuaku sementara hatiku harus merana karena aku tak sanggup memenuhi keinginannya?

Kini giliran namaku yang dipanggil ke depan… “Ibu sudah banyak membimbing saya, Ibu Sudah banyak memberikan semangat kepada saya, Ibu sudah banyak dan sudah banyak lagi yang telah Ibu berikan kepada saya… mungkin tidak cukup ucapan terima kasih dari saya, tapi terimalah rasa terima kasih saya ini, Bu!” kedua mataku mulai berkaca-kaca ketika aku melihat Ibu Nia menyapu air mata yang menetes di pipinya setelah aku berkata seperti itu. Sambil mencium tangannya aku berkata kembali pada Wali Kelasku yang manis dan baik ini “Bu! Saya pamit… saya pamit… bolah saya meminta satu hal lagi pada Ibu?... Doakan saya Bu! Karena doa Ibu akan menjadi sahabat yang setia menemani perjalanan saya nanti”. Kembali kulihat Ibu Nia menyapu air mata di pipinya saat dia berkata “Selamat jalan Wah! Doa Ibu akan selalu mengiringimu!”. Aku melihat semua yang ada di sini menangis aku tidak tahu apakah mereka menangis karena sedihkah atau karena bahagiakah, memang kusadari sehelai rambut pun masih terlalu besar untuk dijadikan pembatas antara kesedihan dan kebahagiaan. ‘Oh Risa! betapa tidak beruntungnya aku ini, hingga hari terakhir aku berada di sini perasaanku padamu belum terungkapkan. Mungkin akan tetap terpendam dan terbawa ke Tangerang.’

Dua bulan telah berlalu, siang tadi aku telah menerima hasil pengumunan dari seleksi calon Penerbang. Hasilnya tidaklah seperti yang aku harapkan, seleksi yang bergitu ketat telah membuatku gagal menjadi seorang penerbang. Betapa tepukulnya terlebih ketika aku mengetahui seluruh Universitas sudah tidak lagi menerima pendaftaran mahasiswa baru. Mungkin dalam satu tahun ke depan ini aku terpaksa menghentikan pendidikanku. Hari ini dua hari terakhir di bulan September, surat yang kutulis untuk Risa telah aku masukkan ke dalam amplop. Tak banyak yang aku ingat apa isi dari surat yang aku buat semalam, mungkin aku masih ingat beberapa kata yang aku tulis di dalamnya;

Risa maafkan aku, aku yang telah menggodamu dengan puisiku.

Lagi-lagi aku hanya mampu mengukir nisan untuk perasaanku sendiri.

Kini aku tengah terjatuh mencoba untuk berdiri, merangkak, berjalan, dan berlari.

Maafkan aku yang telah mengganggu nada-nada dari kehidupanmu, kini aku akan beranjak pergi, hanya satu doa yang aku punya untukmu, kuharap setelah hari ini kau dapat melanjutkan harmoni kehidupanmu dengan baik dan iramanya akan menjadi indah.

Surat itu menjadi akhir dari apa yang aku rasakan selama ini.

*

Kangen rasanya karena sudah lama aku tidak ke rumah Kakek. Wah kebetulan sekali akhir pekan minggu ini cukup panjang, besok kamis saja aku sudah tidak masuk kuliah.

Dalam perjalanan ke Sumedang aku melihat Tampomas tampak indah dengan segumpal awan putih yang seakan menyelimutinya. Setibanya di rumah Kakek aku ambil air wudhu untuk shalat magrib. Selepas isya rasanya mataku sudah terlalu berat untuk menahan rasa kantuk. Awalnya aku hanya ingin merebahkan diri saja di kursi depan dan ternyata ketika aku tersadar rupanya azan subuh tengah dikumandangkan.

Suasana pagi di desa ini ternyata masih sama seperti dahulu, udara yang dingin, sawah yang menghijau, tapi apakah bubur ayam di pojok pasar masih sama rasanya?. Dulu bila minggu pagi atau waktu libur aku selalu menyempatkan diri menikmati sejuknya udara pagi dengan berlari ke pasar mencari bubur ayam atau bidog (serabi endog/telur), kedua makanan ini mantap sekali rasanya terlebih jika dimakan dengan tahu Sumedang tidak mesti menunggu besok hari ini pun aku sudah berlari ke pasar dan mencari bubur ayam. Setelah perutku terasa kenyang, kuputuskan berjalan kaki saja untuk pulang ke rumah. Di antara sawah yang menghijau aku nikmati pagi ini seakan aku masih tinggal di sini. Dari jauh aku melihat angkot berwarna kuning yang sedang berjalan pelan menghampiriku, aku masih ingat sekali dengan angkot ini di kaca depannya pun masih tertuliskan kata LESTARI. Langsung saja aku hentikan angkot itu ketika akan melintas di hadapanku. “Pagi Mang Entis masih ingat sama saya?” tanyaku pada supir anggkot itu, sambil tertawa ia pun menjawab pertanyaanku “Wah! Pasti masih ingat, kapan ka sini?”. “Kemarin Mang!, kangen rasanya hampir dua tahun tidak ketemu.” balasku kembali. langsung saja aku buat janji dengan mang Entis untuk jalan-jalan bersama dia sambil naik angkot.

Jam sembilan aku sudah menunggu di tempat biasanya dulu aku menunggunya. Angkot ini adalah angkot langgananku, bersama teman-teman dari desa sebelah kami selalu pergi dan pulang sekolah bersama menaiki angkot ini. Tak lama juga aku aku menunggu di sana , langsung saja aku menaikinya ketika angkot itu berhenti di depanku. “Mau jalan-jalan ke mana?” tanya mang Entis kepadaku ketika dia mulai menginjak pedal gas angkotnya. Langsung saja aku menjawab “Mang, saya ingin mengenang jejak-jejak perjalanan ke sekolah dahulu”. Selama perjalanan banyak sekali hal yang kami bicarakan, mulai dari bertanya kabar, menanyakan kabar beberapa teman yang dulu pernah bersama-sama di angkot ini, mengingat kapan pertama kali saling kenal hingga waktu harus berpisah.

Akhirnya angkot ini harus berhenti di sebuah pasar dekat sekolahku dulu. Sementara Mang Entis harus melanjutkan perjalanannya untuk menggangkut penumpang, aku ingin tetap di sini saja sedikit mengenang saat-saat di pasar ini. Berjalan-jalan memasuki lorong diantara toko-toko yang berjajar, aku pun menyempatkan diri untuk mendatangi beberapa toko yang pemiliknya kenal padaku, sekedar menyapa dan sekedar berbincang sejenak, rupanya mereka memang masih mengingatku. Cepat sekali perutku ini menjadi lapar, kemudian membuatku melangkah ke salah satu sudut di bagian depan pasar. Biasanya ada seorang penjual mie ayam dengan gerobaknya berjualan di sini tetapi saat aku tiba di sana rupanya dia belum datang.

Cukup lama aku menunggu sementara cacing di perutku mulai meronta-ronta. Akhirnya akan terhenti juga rasa laparku ketika sebuah gerobak mie ayam menghampiriku. Si penjual mie itu terheran-heran ketika melihatku duduk di emperan toko tempat biasa aku dulu duduk dan menyantap mie ayam buatannya. Dengan wajah yang masih terheran-heran ia menyapaku kemudian menawarkan mie ayam kepadaku, langsung saja aku memesan satu mangkuk. Baru beberapa suap aku menyantap isi dari mangkuk yang ada di tanganku, sepertinya rasa dari mie ini tidak berubah dan seakan membuka kembali kenangan saat-saat pulang sekolah. Masih tersisa beberapa suap lagi mie di mangkukku ini, ketika ada yang memanggil namaku dan medekat padaku. Setelah aku menoleh kepada orang yang memanggilku tadi rupanya dia si Iman. Dahulu Iman sewaktu baru masuk ke sekolah yang sama denganku dia adalah adik asuhku saat MOS (Masa Orientasi Siswa), oh ya! aku belum bilang waktu di SMA dulu aku ini seorang pengurus OSIS. ‘aku bukan membanggakan diri lho’. Hanya sejenak aku berbincang dengan si Iman, setelah saling bertukar nomer telepon kemudian Iman kembali pergi karena harus segera pulang padahal aku sudah menawarkan semangkuk mie ayam padanya.

Walau belum puas rasanya aku berada di Sumedang tetapi aku harus kembali ke rumah dan melanjutkan kuliahku. Ingin rasanya aku kembali ke Sumedang mungkin nanti ketika liburan semester.

Hari masih terus berganti, di minggu tenang sebelum ujian, rasanya aku sudah mulai jenuh menghapal rumus-rumus. Sejenak aku tinggalkan rumah untuk pergi menemui seorang sahabat. Setelah puas aku bercerita kesana-kemari dengannya. Aku pun kembali pulang tapi rupanya rasa jenuhku belum juga beranjak dari benakku. Lalu aku ambil HPku memainkan beberapa permainan yang ada di dalamnya, tetap saja tak mampu mengusir rasa jenuhku. Kemudian aku membuka daftar telpon yang ada di HPku mencoba mencari mungkin ada beberapa teman yang bisa dihubungi dan mengajaknya berbicara atau sekedar berSMSan. Abizar, Adit, Anggi, Bambang, Beny, BoZ Umar, Daruri, Deden, Emboy, Endar, Febrizky, Hardy, Hasan, ketika daftar nama terhenti sejenak di sebuah nama aku mengingat nomer siapa ini yang tertulis Iman. Ooh rupanya si Iman yang aku temui saat di pasar waktu itu. Tiba-tiba saja aku teringat sebuah nama yang hampir aku lupakan langsung saja aku mengirim pesan singkat (SMS) padanya; “Aslmkm… pa kbr Man?, gmana hsl UANny ap km lu2s?... ngomong2 km pny no Neng Risa ga? Klw ad kirim untkku ya!”. Iman ini teman satu angkatan dengan Risa tetapi sewaktu kelas satu mereka tidak satu kelas. Sepuluh menit kemudian Iman membalas SMSku; “Baik A, Alhdllh sy dan semua angktan sy lu2s, ini ada nomnya:08*******595.” Tak berlama lama aku simpan no itu, sebelum aku mengirim SMS kepada Iman untuk mengucapkan selamat dan terima kasih.

Entahlah apakah aku ini salah, pernah aku berkata pada diriku sendiri untuk melupakan Risa tetapi ketika nomer teleponnya sudah terimpan di dalam HPku ternyata telah membangkitkan kembali perasaanku pada Risa yang pernah aku lupakan.

Selepas senja di hari yang sama saat aku mendapatkan nomer Risa, untuk pertama kalinya aku mengirimkan SMS kepada Risa yang isinya “Aslmkm… Risa Selamatnya km Dah lu2s, mau nglanjutin k mna?” pada mulanya dia tidak membalas SMSku tetapi malah mencoba menelponku dua kali teleponya masuk ke HPku, dua kali pula aku tidak menjawabnya. Aku hanya ingin mencari perhatian dengan membuatnya penasaran, kemudian selama setengah jam HP ku non aktifkan.

Dan ketika HP kuaktifkan kembali rupanya ada satu pesan masuk langsung saja aku buka ternyata SMS itu dari Risa dan bertuliskan “ Trima Ksih, in dri sapa ya? Bls”. Kemudian aku membalasnya dengan enam kata “Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta”. Aku tak menunggu ia membalas SMSku itu dan aku menelponnya. Setelah tersambung dia terlebih dahulu memberi salam kepadaku, setelah kubalas salam darinya kemudian dia menyebut namaku kontan saja kujawab “Yapp!!.. ini aku.. aku kira kau sudah lupa!, gamana kabarnya?”. Walau serasa asing suaranya terdengar di telingaku, karena baru pertama kalinya aku berbicara padanya lewat telepon, tapi aku yakin bahwa dia adalah Risa seperti keyakinannya saat menyebut namaku tadi. Dia berbicara padaku kabarnya sangat baik dan merasa terkejut, kemudian aku bertanya akan melanjutkan sekolah kemana, katanya dia ingin sekali menjadi seorang Pramugari. Dalam benakku berfikir ‘O.k.. wajahnya yang manis, tingginya yang ideal, serta sikapnya aku rasa dia memang pantas menjadi seorang Pramugari’. Dia pun meminta padaku untuk mencarikan informasi sekiranya saja ada Diklat Pramugari di Jakarta.

Kembali dan kembali, satu persatu serpihan perasaanku padanya seperti tersusun kembali.

Tidak berhenti di situ saja, di hari berikutnya pun aku dan Risa tetap berSMSan. Entah sampai berapa kali dalam sehari aku mengirimkan SMS kepadanya sebaliknya pun dia. Aku pun tak segan untuk mengisikan pulsa untuk HPnya, ketika aku merasa pulsa di HPnya tak cukup untuk mengirim SMS.

“I just want to make She heppy” tanpa sepengetahuannya aku pun mencari apa yang dia inginkan. Suatu hari sepulang dari kampus aku pergi ke suatu tempat pelatihan milik salah satu Maskapai Penerbangan ternama di Indonesia untuk mencari informasi sekiranya ada pelatihan untuk seorang pramugari dan ternyata apa yang aku cari aku dapatkan di tempat itu. Setelah mengambil beberapa brosur kemudian aku pun pulang.

Akhirnya selesai juga ujian semesterku, mendengar bahwa beberapa temanku yang dari daerah lain sudah bersiap-siap kembali ke rumahnya masing-masing rasanya aku juga ingin segera pergi ke rumah Kakek. Seperti biasa setelah selesai ujian biasanya aku jalan-jalan sendiri sebagai pelepas ketegangan dan rasa jenuh. Aku pun masuk ke sebuah mall dan tempat yang biasanya aku tuju adalah toko buku. Sekedar ingin tahu aku melihat beberapa buku yang menarik baik dari jilid depannya atau pun judulnya, tak sedikit juga yang aku lihat isinya. Entah sudah berapa banyak buku yang sudah aku baca judulnya dan melihat isinya sebelum sebuah buku membuatku tertarik karena di jilid depan tertuliskan judul Menjadi Wanita Paling Bahagia (sekali lagi terima kasih untuk orang yang telah mengarang dan memberi judul buku ini). Rasanya aku tidak ingin meninggalkan toko buku ini tanpa membeli buku yang kini tengah aku bawa ke kasir.

Sesampainya di rumah segel buku ini masih terpasang aku pun hanya membalik-balik bagian depan dan belakangnya karena di bagian depan dari buku ini tertulis (spesial untuk wanita). Akan tetapi aku tahu siapa yang pantas membuka segel dan membaca apa isi dari buku ini, dialah Risa. Malam harinya, lamunanku telah membuat rasa kantukku pergi menjauh, kemudian aku ambil buku dan brosur dari tasku. Sepertinya Risa akan senang menerima buku ini aku yakin dia masih suka baca. Seandainya dia jadi mengambil pelatihan pramugari di Jakarta aku pasti akan sering bertemu dengan dia bahkan mungkin ia bisa tinggal di rumahku karena tempatnya mudah di jangkau dari rumahku. Tapi, tapi seandainya dia menjadi seorang pramugari dia pasti akan terbang jauh dan mungkin dia akan meninggalkanku. Rasanya aku tak perlu memberikan brosur ini cukup buku saja yang aku berikan padanya ketika lusa aku sudah berada di Sumedang.

Sudah hampir siang, beberapa bajuku pun belum selesai kukemas. Setelah semuanya selesai kuperiksa tas, baju-baju, HP, Dompet, buku, apa perlu kubawa brosur ini?. Entah mengapa sepertinya brosur itu masuk sendiri ke dalam tasku. Setelah berpamitan kepada kedua orang tuaku dengan alasan menengok kakek aku pun pergi ke Sumedang. Saat melintasi sebuah pasar tiba-tiba saja aku teringat dengan pak Endang dia pernah berpesan kepadaku, jika aku main ke Sumedang aku harus membawakannya salak pondoh. Aku keluarkan tiga puluh rIbu rupiah untuk membayar lima kilogram salak yang sudah kumasukan ke dalam tasku. ‘Wah! tambah berat saja bawaanku kali ini’.

Senja pun belum sirna, aku sudah tiba di rumah Kakek. Cukup melelahkan perjalanan kali ini, setelah kusimpan tasku di dalam kamar, aku lalu berbaring di kursi tamu karena menurutku di sinilah tempat yang paling nyaman untuk sekedar melepaskan rasa lelah. Sepertinya masih ada yang mengganjal di kantong celanaku, oh rupanya HPku. Agar tidak membuat risi aku letakannya di atas meja yang ada di sebelahku. Tapi tak lama HPku berada di meja itu, sebelum aku mengambilnya kembali karena aku ingin membuat janji dengan Risa, sebenarnya Risa tidak mengetahui jika aku sedang berada di Sumedang. Aku kirimkan sebuah SMS padanya aku tulis dalam SMS itu bahwa aku ingin menemuinya besok di Perpustakaan SMA jam sembilan. Akhirnya ia pun menerima tawaranku.

Jam masih menunjukan pukul delapan ketika aku tiba di gerbang sekolah. Aku pun melangkah masuk kulihat banyak sekali perubahan di sekolah ini termasuk perpustakaannya pun berpindah ruang. Beberapa saat aku memandangi suasana sekolahku ini sebelum aku ke ruang TU untuk menyerahkan salak kepada pak Endang. Di dalam ruang itu aku menyalami semua staf TU dan beberapa orang guru yang kebetulan berada di sana . Hampir satu jam aku mengobrol bersama mereka, kemudian aku keluar dari ruang itu tempat yang kemudian aku kunjungi adalah lapangan tempat upacara. Gerogi juga, ketika menunggu detik-detik perjumpaanku dengan Risa. Ketika aku hendak kembali ke TU rupanya di bangku depan ruang itu ada dua orang perempuan duduk. Kemudian hatiku bertanya-tanya ketika aku mendekatinya dari arah samping, apakah salah satu dari mereka itu adalah Risa?. Belum saja aku berada didekat mereka, rupanya salah seorang dari kedua perempuan itu menoleh ke arahku. Seakan terhenti detak jantungku saat Risa tersenyum padaku. Jantungku boleh terhenti tapi langkahku tidak, karena senyumnya seperti magnet yang menarik tubuhku.

Kini aku tengah berdiri di hadapannya perlahan demi perlahan rasanya jantungku mulai berdetak kembali tetapi tubuhku yang seakan membeku. Risa masih tetap tersenyum ketika ia julurkan tanganya padaku, kujabat tangannya itu. Saat kutatap matanya seakan ada kebahagiaan yang terpancar seakan ada kerinduan yang tertumpahkan, binar matanya pun seakan telah membayar lunas rasa rinduku. Pembicaraanku dengannya pun dimulai kembali, saling bertanya kabar, aku pun bertanya padanya “Sha, apa bukuku yang dulu masih kamu simpan?”. Sambil mengeluarkan dua buku dari tasnya dia pun berkata “Ini masih aku simpan. Saat itu pembicaraanku kuhentikan sejenak karena aku masuk ke dalam ruang TU untuk mengambil buku yang masih tersimpan di tas. Ketika kubuka tasku ternyata brosur pramugari itu tertumpuk di atas buku yang akan kuberikan. ‘I just went to make She happy’. Akhirnya aku pun memberikan kedua benda itu padanya. Rupanya waktu tak banyak tersisa untukku berbincang dengan Risa karena saat itu ia harus mengantar teman di sebelahnya untuk mendaftar ke sebuah PGSD di Sumedeng. Aku pun tak bisa menghalangi kepergiannya, sesaat sebelum dia pergi ia bertanya padaku “ A, kapan kembali lagi ke Tangerang”. “Mungkin hari Sabtu aku akan kembali karena ada pekerjaan telah menungguku di sana ” jawabku saat menjabat tangannya. Kemudian dia pun menawarkan kepadaku untuk main ke rumahnya.

Kamis pagi, setelah joging aku hanya menghabiskan waktu seharian di rumah saja. Ke esokan harinya aku mulai merasa jenuh di rumah mungkin setelah sarapan aku akan main saja di rumah Emboy yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah kakek. Sekedar mengobrol banyak sekali yang hal yang aku bicarakan saat aku berada di rumahnya. Sepertinya shalat Jumat akan segera di mulai aku pun bergegas kembali ke rumah dan mungkin saja setelah shalat selesai pun aku hanya akan berada di rumah saja.

Azan subuh tengah berkumandang di Sabtu pagi aku pun mulai membuka kelopak mataku tapi rasanya sulit sekali aku beranjak dari tempat tidur, masih ngantuk rasanya karena malam tadi bayang-bayang Risa terus menghiasi dinding kamar tempatku berbaring saat ini, aku pun tak sempat melihat jam saat aku mulai tertidur hanya suara-suara kehening yang memberitahu padaku bahwa malam sudah terlalu larut. Makin erat kudekap kain sarung yang menempel di tubuhku, tak lama kemudian dari luar kamar kakekku memanggil dan mengajakku untuk shalat subuh berjamaah. Aku pun menjawab panggilannya dan berkata “Iya, nanti dulu masih ngantuk nih.”, kemudian kakekku mengatakan sesuatu padaku “Cepat cuci muka dan biarkan air wudhu yang akan melunturkan rasa kantukmu.” Ternyata ucapannya barusan mampu memberikan semangat padaku untuk pergi ke pancuran air.

Ketika aku sedang merapihkan sajadah yang baru saja aku gunakan kudengar nenekku berkata “Geura ka dieu! (cepat ke sini)” ketika aku menghampirinya ternyata dua gelas teh manis dan sepiring uli bakar sedang ia suguhkan di atas meja. Dari arah aku berdiri, sepertinya uli bakarnya masih terlihat hangat. Wah nikmat rasanya dingin-dingin makan uli dan minum teh manis hangat. Masih belum habis uli yang ada di tanganku ini saat aku menyikapkan gorden di belakangku, aku mengintip suasana di luar dari sela gorden itu. Di luar kabut masih cukup tebal dan mentari pun belum muncul hanya cahaya kuning kemerah-merahan yang mampu kutangkap dengan mataku. Setelah aku nikati tegukan terakhir dari teh manisku, aku kenakan sepatuku dan kemudian beranjak keluar tuk menikmati suasana pagi.

Sejenak aku berhenti saat aku melihat mentari mulai muncul dari balik gunung Cermai. Ketika itu dalam benak aku berkata ‘Pasti tak banyak orang yang tinggal di kota sepertiku dapat menikmati suasana seindah ini. Karena di perkotaan seperti Tangerang atau Jakarta , asap polusi adalah kabutnya dan ketika malam lampu-lampu jalanan adalah bintang-bintangnya. Kembali aku lanjutkan lari pagiku tiba-tiba saja aku teringat dengan kawan lama dan akhirnya kuputuskan untuk berlari ke rumahnya. Dari seberang jalan aku melihat toko buku miliknya sudah buka. Langsung saja aku menghampiri toko itu dan bertanya kepada Ibunya yang kebetulan sedang merapihkan beberapa buku di dalam “Asalamualaikum.. Oky nya ada bu?”. Kemudian Ibunya menyuruhku menunggu sementara dia memanggil si Oky. Oh iya! Oky ini nama penggilan kecil si Bulky, walau hanya satu tahun kami satu kelas tapi selama tiga tahun waktu aku masih di Sumedang si Bulky ini tempat aku berbagi cerita.

Tak lama aku melihat-lihat suasana di sekitar sebelum seseorang menepuk bahuku dari belakang, ketika aku membalikan tubuh langsung saja aku menjabat tangan yang kawan lamaku ini. Satelah aku dipersilahkan duduk di bangku kayu yang ada di depan tokonya mulailah kami mengobrol, menguak kembali kembali kenangan-kenangan sewaktu di SMA. Kenangan ketika awal masuk, kenangan saat membacakan puisi pada acara perpisahan dan satu persatu kenangan yang terekam seakan diputar ulang kembali. Tawa, sindiran dan celetukan-celetukan ringan menghiasi pembicaraanku saat itu.

“Oh ya! Apa kamu masih suka membuat puisi?” tanya Bulky padaku. Langsung saja aku menjawab pertanyaannya “Rasanya setelah puisi yang kita bacakan waktu perpisahan, tak ada puisi lagi yang aku buat. Bagaimana sempat, aku mengambil jurusan Fisika di kampusku. Mungkin saja kini otak kiriku lebih besar dari otak kananku… Oki, kamu masih ingat sama yang namanya Risa, itu loh anak PASKIBRA yang pernah aku ceritain sama kamu!”. “Oh ya! Aku masih ingat, memang ada apa gitu?” balasnya kembali.

“Oky! selama beberapa hari aku di sini, ada sesuatu yang telah aku buat, sesuatu yang meresahkan di setiap tidur malamku. Benarkan kamu masih ingat dengan Risa?. Kemarin setelah shalat jumat aku ke rumahnya dan bertemu dengannya. Aku pun tak menyangka bisa sampai di rumahnya, rumah yang di bagian depanya banyak ditumbuhi bunga-bunga.” Bulky tetap terdiam hingga aku menyelesaikan ucapanku barusan, setelah itu ia pun berkata “Oh.. Risa yang parasnya sedikit mirip dengan Ega?”. “Iya kata orang benar seperti itu, tapi bagiku Risa adalah Risa dan Ega adalah Ega, keduanya memang istimewa bagiku” aku potong ucapan Bulky sebelum ia melanjutkan kembali “Dengan siapa kamu ke sana?, Ngapai?, dan hal apa yang membuatmu resah?”. Satu persatu aku jawab pertanyaannya dan menceritakan apa saja yang terjadi di sana …

“Bulky! Kamu yang selalu diam ketika aku bercerita, kali ini aku memintamu tetap seperti itu hingga aku selesaikan apa yang aku ceritakan”

Aku pun memulai ceritaku; kamu pasti tahu jika aku telah jatuh hati padanya, kamu pasti tahu alasan kenapa aku tidak sempat menyatakan perasaanku padanya waktu itu. Tapi kamu tidak tahu ada puisi yang aku titipkan padanya, ada buku yang aku berikan padanya dan ada surat yang aku serahkan padanya (dan aku pun memberitahu apa yang belum dia ketahui). Semua aku lakukan karena aku tak ingin melepaskannya, begitu teristimewanya Risa buatku, every thing I can do and I just want to make She happy. Hampir beberapa tahun aku tidak berkomunikasi dengannya tapi setelah aku mendapatkan nomer HPnya beberapa bulan lalu seakan aku telah menemukan kembali mata rantaiku yang hilang. Hampir setiap hari aku selalu berSMSan dengannya. Hari Rabu aku menemuinya di SMA, hanya beberapa menit aku bertemu dengannya, aku pun merasa masih terlalu singkat perjumpaanku saat itu. Ingin sekali rasanya aku bertemu kembali dengannya. Kemarin aku diantar Si Emboy, dengan sepeda motornya aku dibonceng sampai ke rumah Risa. Kenapa aku ke sana ? Karena ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padanya. Ketika aku pertama kali menginjakkan kaki di depan rumahnya, hampir di setiap sudut rumahnya kulihat banyak bunga-bunga yang mekar tumbuh di sana . Saat aku tiba di sana , kedua orang tuanya baru saja tiba dari berbelanja, dua orang adiknya yang sedang menonton TV dan seorang kawannya yang kebetulan sedang main di rumahnya. Banyak hal yang aku bicarakan kemarin, beberapa kali pula aku memandang matanya. Ibunya yang humoris seakan membuat ramai suasana saat itu. Perbincangan semakin hangat tapi aku tetap menunggu sekiranya ada waktu untukku menyampaikan apa yang selama ini terpendam jauh di dasar sini. (sambil menunjuk dadaku, aku mengatakan kata-kata terakhir barusan).

Rupanya kawan yang duduk di sebelahku ini tidak mau hanya diam dan hanya mendengarkan apa yang aku ceritakan akhirnya dia memotong ceritaku dan bertanya “Lalu bagaimana hasilnya, apakah perasaanmu itu sudah kamu sampaikan?”. Seketika itu saja aku menundukan kepala sambil menjawab pertanyaannya “Rupanya tak ada waktu yang terselip untuku kemarin mungkin karena terlalu banyak mata di sana dan hingga hari ini perasaanku masih tetap terpendam dan semakin jauh terbenam. Oh ya! Sudah jam berapa sekarang?”. Sejenak Bulky beranjak dari duduknya dan menengok jam yang tertempel di dalam tokonya, tak lama dia kembali ke tempat duduknya semula dan berkata “Hampir jam setengah dua belas, memangnya ada apa gitu?”. Aku jawab pertanyaannya ketika aku sedang mengeluarkan HPku dari kantong sebelah kanan celanaku “Oh iya, aku belum memberitahumu, saat ini aku sedang menunggu SMS dari Risa karena kemarin sebelum aku kembali ke rumah aku membuat janji hari ini dengannya, itu pun sekiranya dia bisa karena rencananya dia akan pergi ke Bandung hari ini, ke rumah saudara katanya. Padahal aku telah membatalkan kepulanganku ke Tengerang hari ini.”. Kemudian Bulky memotong pembicaraanku dan bertanya “Kalau boleh aku tahu tahu, sekiranya ada waktu untukmu berbicara dengannya lalu hal seperti apa yang ingin kamu sampaikan?”. Rasanya aku tak bisa menyembunyikannya dari Bulky, lalu aku beri tahu dia apa yang ingin aku sampaikan pada Risa “Sungguh aku telah jatuh hati padanya, pada senyumnya, pada sifatnya, pada candanya, dan pada kehidupannya. Semuanya ingin aku beritahukan padanya, semuanya dan… dan tak satu pun yang akan aku sisakan…”

Tiba-tiba saja ketika aku akan melanjutkan perkataanku HPku bergetar, sepertinya ada pesan masuk. Seketika itu detak jantungku seakan berhenti kembali seperti saat aku bertemu dengan Risa di SMA Rabu kemarin. Langsung saja aku lihat tampilan layar pada HP yang kugenggam dengan tangan kanan. Pesan diterima, kata-kata itu tertulis pada tampilan layar. Tanganku terasa gemetar dan jempotku terasa kaku. Kutekan saja tombol untuk membuka pesan itu, setelah kubuka dan mengetahui dari siapa pesan itu, kutarik dalam-dalam nafasku yang tadi sempat terasa sesak. Rupanya hanya pesan dari Bapakku yang menyuruhku untuk segera pulang. Sejenak aku balas SMS itu untuk memberitahu bahwa aku akan pulang besok.

“Bagaimana kalau kamu telepon dia!” kata Bulky memberi saran padaku. “Bagaimana bisa!... tadi pagi saat aku menunggumu keluar dari rumah, beberapa kali aku mencoba menghubunginya tetapi HPnya tidak aktif” balasku. Suasana hening sejenak ketika aku memainkan jampolku di atas tombol-tombol HPku dan menuliskan sebuah pesan “1jam, 2jam, 3jam, sampai siang in ak msh menunggu sbuah kpastian.. tak jelas apa yg kutunggu.. brharap msh ad sserpih kbr baik tukku, kan kutunggu hingga senja tiba.”. Setelah kukirim pesan itu ternyata memang HPnya tidak sedang aktif, entahlah aku tidak tahu kenapa…

Fajar sudah mulai tampak, sudah waktunya aku menaiki bis yang baru saja aku stop. Untuk kedua kalinya aku membawa perasaan yang mestinya kuungkapkan dan kutinggalkan di sini. Kucoba menunggu SMS dari Risa tetapi hingga senja tergelincir kemarin tak kudapatkan apa yang kutunggu dan entah ini untuk ke berapa kalinya aku mencoba menghubunginya tetapi HPnya masih tidak aktif. “Sudahlah! Masukan saja HPmu ke dalam sakumu, duduk dengan tenang dan nikmati perjalananmu” kucoba nenenangkan diri dengan berucap seperti itu pada diriku sendiri. Rupanya tak kugubrus ucapanku sendiri, nyatanya beberapa kali kuambil HPku dari saku, barangkali ada pesan dari Risa tanpa sepengetahuanku. Dan ketika bisku berhenti sejenak untuk beristirahat, sekedar ingin melihat saja aku bengambil HPku dan ternyata ada pesan masuk. Setelah kubuka ternyata ini dari Risa. Kubaca pesanya “Aslmkm, duh m’f A kmrn HP sha rsk jd ga bsa ksh kbr ke A. dan hri ini bru ak ambl skali lg m’f A”. Setelah aku membaca SMSnya aku tak mau mempermasalahkan hal itu kemudian kukirim SMS padanya “Waalkmslm. Sudahlah ga ap2! it kan bukn keinginanmu. Justru ak yg msti minta m’f krena terlalu memaksakan diri untk mnenuiku. Skrng ak lg d jln.”…

Dua bulan sudah aku lalui. Ini hari pertama aku kembali ke kampus. Ketika aku sedang memanaskan mesin motorku. Sepertinya HPku bergetar, getar yang menandakan ada SMS masuk. Oh rupanya Risa yang mengirim SMS ini, ada apa ya?. Aku buka saja SMS itu membaca isinya “Lg ngapain A. blh curhat g, trus mnt pndpt? Kr2 gnggu g y?”. Wah rupanya dia mau curhat sama aku, tapi aku sudah tidak punya banyak waktu lagi aku harus berangkat ke kampus, mungkin nanti aku membalasnya di kampus saja.

Setelah aku memarkirkan motorku di belakang kampus, sambil jalan ke kelas aku balas SMS Risa tadi. “Ok. Skarang mau crht ap?”.. Dosenku baru saja masuk bersamaan dengan getar HPku yang menandakan sebuah pesan masuk. Wow betapa tersentaknya aku ketika aku membaca SMS darinya yang berisi “M’f y, klo ni soal pribadi ak. Ada2 cwok yg sk ma ak yg 1 seangkatan, yg 1 lg mhsw akmigas, ak bngung mst mlh sp, pa tmn yg s-angkatan klihatannya dy cuX bgt, ky kmrn tgl2, dy blng ga jd ntn drumband, tp mlh ga dtng. Klo yng d akmigas orngnya perhtian bngt, tp dy ga pnya ckp wkt buat jln ma ak. Jd sp y, yg sbnrnya syng ma ak?”. Apakah ini sungguhan atau hanya candaan belaka?. Aku coba menenangkan diri karena aku tak mau emosiku meledak di dalam ruang kelasku ini. Setelah mata kuliah ini selesai aku membalasnya kembali “Sry tlt bls, brusan dipanggil Babe, lg ngebenerin saung… oh iya! Klo ad yg suka sm km pstiny dia syg sm km… bukan begitu! Nah skarang sapa yg km suka&km syng? Kputusan ad d HATI km! diantara mreka ap ad yg ak knal?”. Saat aku menunggu balasnnya, aku merasa bingung kenapa aku membalasnya seperti itu.

Kuliahku yang kedua sedang berlangsung ketika ada pesan kembali masuk ke HPku. “Kynya ga da yg knl. Mslhnya ak sk dua2nya. He… Mknnya ak bngung abis blang sk-nya d wkt yg brsamaan sich. Jd?” itu isi SMS yang kembali Risa kirimkan padaku. Aku tak mau ambil pusing aku balas saja SMSnya “Ya selamat memilih saja, semoga Tuhan memberimu petunjuk jadi kau bisa memilih yang terbaik untukmu”. Lalu aku non aktifkan HPku dan entah kapan aku akan mengaktifkannya kembali.

Satu hari, dua hari, tiga hari dan hari yang keempat, rasanya aku sudah merasa lebih tenang kemudian aku aktifkan kembali HPku saat aku akan berangkat ke kampus. Setelah HPku aktif kembali rupanya ada pesan masuk, cuma dari teman yang menanyakan jadwal kuliah yang baru.

Aku kembali merasakan getaran-getaran yang manandakan ada pesan masuk. Oow! kenapa harus sekarang Risa mengirinkan pesan padaku, lagi-lagi saat aku sedang berada di dalam kelas. Kubaca apa isinya “Ass, pagi lg ngapain nih? Sha dah ngmbil kptsan. Sha mlih Gilang mhsiswa akmigas. Mdh2an dy jd yg trbaik. Doain y. oh y, mau jd abang sha ga? Kl ak pnggl kk ga pa2 kan ?”.. Uuh! SMS macam apa ini?, aku coba kumpulkan kata-kata ingin sekali aku menelponya dan berkata “Hai Sha kamu ini ga tau atau ga mau tau, kalo aku ini suka sama kamu????”. Langsung saja aku meminta ijin pada Dosenku untuk keluar sebentar. Setelah di luar kelas aku telpon dia, tetapi belum saja telponku dia terima, dan tiba-tiba saja HPku mati rupanya aku lupa untuk mengisi ulang baterey di HPku. Sejenak aku menenangkan diriku, sempat aku memungut serpihan HPku yang baru saja aku hujamkan ke lantai sebelum kemudian aku kembali ke dalam kelasku.

Keesokan harinya ketika aku sedang mempersiapkan buku-bukuku. Aku coba untuk menelpon Risa. “Aslamualaikum A!” aku mendengar suaranya setelah dua kali nada sambung berbunyi. “Waalaikum salam, oh selamat ya.. Sha kamu mau aku jadi kakakmu, apa ga berlebihan tuh jadi sahabatmu saja rasanya sudah cukup untukku” sakali lagi aku pun merasa heran dan bingung kenapa aku berkata seperti itu. Kemudian Risa berkata kembali padaku “Tapi A Risa pingin AA jadi kakak Risa!”. Tak benyak kata lagi aku keluarkan sebelum aku mengakhiri pembicaraanku, aku hanya berkata “Ok, kalau itu maumu asalkan kamu merasa senang, aku tidak keberatan dipanggil kakak, duhai adiku yang lutu!”.

Sepertinya Risa hanya mengkap apa yang aku ucapkan padanya tetapi dia tidak bisa menangkap betapa tersayatnya hatiku. Beberapa SMS dia kirim kepadaku, menceritakan kesehariannya, menceritakan kepindahannya ke Bandung untuk tinggal bersama salah satu sanak keluarganya, dan mengambil Pelatihan Pramugari di sana dan banyak lagi SMS yang telah manambah perihnya luka yang ada, aku pun hanya mambalas secukupnya semua SMS darinya dan pernah beberapa kali aku tidak membalas SMS darinya. Akhirnya aku mengirimkan surat ke alamat rumahnya di Sumedang karena orang tuanya masih tinggal di sana semoga saja dia membacanya ketika dia kembali ke rumahnya. Tak banyak kata kata dalam surat itu;

Risa! Kuharap kau menjaga buku yang terakhir aku berikan.

Semoga saja buku itu memiliki banyak kesempatan,

untuk membuatmu manjadi wanita paling bahagia.

Karena aku sadar Tuhan tak membarikan kesempatan itu padaku.

Aku yang pernah ada untuk mencintaimu…

Sudahlah, aku tak mau melukai diriku sendiri

Karena kau tak bisa mencintaiku

dan sekiranya aku pun tak mau melukaimu

Karena aku hanya bisa mencintaimu.

Tak perlu kau melihat kepergianku,

tapi kuharap kau melihat

Aku yang pernah ada untuk mencintaimu.

Tak ada lagi SMS untuk Risa, tak ada lagi puisi untuknya dan aku hanya ingin melanjutkan kehidupanku kembali.

*

Ini hari pertama aku mengajar di sebuah SMA, pagi pagi aku sudah mandi dan bersiap siap untuk berangkat. Ketika aku sedang merapihkan kerah bajuku terdengar dari luar “Mas, Mas Wahyu!”, sepertinya itu suara Dulloh penjual koran langgananku, aku pun keluar untuk menemuinya. Kulihat dia masih duduk di sepedanya dan berkata padaku “Asalamualaikum, Mas maaf tadi sewaktu aku mengambil koran di agen Tabloit Komputer pesanan mas belum ada. Mungkin aku akan mengantarkannya sekitar jam sembilan pagi”. “Oh! Tak apalah tapi nanti kau taruh saja di kotak suratku, karena hari ini aku mulai mengajar” jawabku sambil menghampirinya lebih dekat. “Wah.. selamat ya mas” katanya padaku sebelum ia menganyuh kembali sepedanya. Kuucapkan terima kasih dan melambaikan tangan padanya saat dia meninggalkan rumahku.

Tiba-tiba saja aku teringat, sudah berapa hari aku tidak membuka kotak suratku mungkin ada surat yang masuk. Setelah aku ambil kunci dari dalam untuk membuka kotak itu. Setelah terbuka aku dapati dua buah amplop di dalamnya. Yang satu surat panggilan untuk bekerja, mungkin saja aku tidak bisa memenuhi panggilan itu karena sekarang aku sudah memiliki pekerjaan dan surat yang satunya lagi, sepertinya kertasnya lebih tebal kira-kira apa isinya?. Langsung saja aku merobek amplopnya dan setelah aku melihat isinya dan membaca bagian dalamnya, sepontan saja aku menarik dalam-dalam napasku. Kemudian aku kembali masuk ke rumah dan menghampiri telepon rumah yang terletak di ruang tengah.

Setelah mencoba-coba untuk mengingat, akhirnya aku menekan sederet nomor HP yang ternyata belum sempat terhapus dari ingatanku. Semoga saja dia masih menggunakan nomornya yang dulu.. Tuut..tuut..tuut.. “Assalamualaikum!” oh nomornya masih aktif, kudengar dia memberi salam padaku. Kontan saja aku balas salamnya “Waalaikum salam, masih ingat dengan suara ini? Ooh sorry ya! Aku tidak bisa menghadiri pernikahanmu hari ini karena ada urusan yang tidak bisa aku tinggalkan. Selamat ya rupanya kau lebih dulu menikah, selamat ya duhai adikku yang lutu!” tak aku dengar dia membalas ucapanku. “Oh iya! Bagaimana perasaanmu hari ini, kamu sudah siap?” spontan saja pertanyaan itu keluar dari mulutku. Dari gagang telepon yang aku genggam ini, aku dengar suara lembutnya menjawab “Insya Alloh aku sudah siap”. Kuhela nafasku dalam-dalam kemudian aku berkata kembali padanya “Ngomong-ngomong mana Ibu? Bisa aku bicara sebentar dengannya?, ada yang ingin aku sampaikan padanya!”. “Ibu ada di sebelahku” jawabnya. Dari suara-suara yang kudengar di sini sepertinya dia sedang memberikan HP yang dia genggam kapada Ibu. Rupanya HP itu telah berpindah tangan. “Hallo, ada apa nak?” itu suara Ibu yang selanjutnya aku dengar. “Assalamualaikum, Bu! Jika tidak keberatan ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan Ibu!”. “Oh! Boleh” jawab Ibu. “Tapi saya ingin Ibu berpindah ruangan dari tempat Ibu berada sekarang ke tampat dimana Ibu hanya sendiri saja yang akan mendengarkan apa yang akan saya sampaikan lewat telepon ini”, kenapa aku berkata seperti itu, karena aku yakin Ibu pasti sedang berada bersama dia dalam satu kamar. Tak terlalu lama kemudian Ibu berkata “Baiklah! sebentar Ibu akan pindah dari sini”.

“Sudah Ibu sudah sendiri sekarang. Oh ya ! ada apa nak Wahyu?” kembali aku dengar suaranya setelah beberapa saat aku menunggu. Kemudian aku mulai berbicara pada Ibu “Terima kasih Ibu masih mengingatku, Bu..Ibu pasti tahu bahwa aku adalah salah satu orang yang telah jatuh hati pada Risa, putri Ibu. Bu! Risa telah mengajari banyak hal, mengajariku tentang sebuah perjuangan mendapatkan sebuah cinta walau aku tak mendapatkan apa yang aku perjuangkan dan Risa telah mengajariku bagaimana cara mengikhlaskan orang yang aku cintai ketika dia memilih siapa yang manjadi teman di hatinya, karena saya hanya ingin membuatnya bahagia. Bu! berkenankah Ibu untuk mendengarkan, aku ingin membacakan sebuah puisi yang sebenarnya aku tujukan untuk Risa. Bu!

Dengar

Sekiranya bibirku ini

Masih pantas tuk berucap

Ada kata yang ingin dia ucapkan…

Sekiranya mataku ini

Mampu tuk berbicara

Ada isyarat yang ingin dia bicarakan…

Sekiranya hatiku ini

Sanggup tuk berbisik

Ada rasa yang ingin dia bisikan…

Akhirnya, hatiku ini terasa ringan karena puisi itu telah kusampaikan, puisi yang tersimpan sejak pertama kali aku datang ke rumah Ibu. Itu saja yang ingin aku bicarakan pada Ibu, selamat untuk pestanya hari ini, maaf saya tidak dapat menghadirinya Bu!. Sampaikan salamku untuk Risa bu, Assalamualaikum…” kututup teleponku setelah Ibu membalas salamku. ***